You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.

Sistem Informasi Desa Melayu

Kec. Martapura Timur, Kab. Banjar, Prov. Kalimantan Selatan
Info

Di Balik Suksesnya Bakso Batuah, Bikin Pentol Butuh 2 Ekor Sapi per Hari


PENYUKA jajanan bakso di seputaran Kota Banjarbaru dan Martapura mungkin tidak asing mendengar Bakso Batuah. Namun tidak semua tentunya yang mengetahui sejarah munculnya bisnis Bakso Batuah hingga sukses seperti sekarang. Pastinya, kesuksesan tidak ada yang diraih dengan cara instan, semua diperoleh berproses dengan perjuangan dan lika-liku.

Satu hal yang paling menarik dari bisnis makanan Bakso Batuah milik H. Sunarto asal Blitar ini, usaha tersebut dirintis sejak tahun 80-an dengan produksi pentol bakso dengan keperluan daging mulai ¼ kilogram per hari hingga tertinggi memproduksi pentol dengan kebutuhan daging sapi sebanyak 2 ekor sapi per hari. Bagaimana H. Sunarto merintis bisnis ini hingga sukses seperti sekarang, berikut liputan wartawan koranbanjar.net.

<iframe id="aswift_3" src="https://googleads.g.doubleclick.net/pagead/ads?client=ca-pub-3758699448716232&output=html&h=280&adk=2527500323&adf=1942034544Π=t.aa~a.1567352102~i.1~rp.4&w=605&fwrn=4&fwrnh=100&lmt=1631687043#_ads=1&rafmt=1&armr=3&sem=mc&pwprc=3498737029&psa=1&ad_type=text_image&format=605x280&url=https://koranbanjar.net/di-balik-suksesnya-bakso-batuah-bikin-pentol-butuh-2-ekor-sapi-per-hari/&flash=0&fwr=0&pra=3&rh=151&rw=604&rpe=1&resp_fmts=3&wgl=1&fa=27&uach=WyJXaW5kb3dzIiwiNi4xLjAiLCJ4ODYiLCIiLCI5My4wLjQ1NzcuNjMiLFtdLG51bGwsbnVsbCwiMzIiXQ..&dt=1631686570166&bpp=21&bdt=6048&idt=21&shv=r20210913&mjsv=m202109130101&ptt=9&saldr=aa&abxe=1&cookie=ID=5c9d04a5847ea769-22e6ffe8cfc700be:T=1620273979:RT=1620273979:S=ALNI_Mbfwa3yY3MPHyfgPM92J3kMr9R6rw&prev_fmts=0x0,120x600,1007x600,605x152&nras=3&correlator=5575478433174&frm=20&pv=1&ga_vid=1151116508.1619424364&ga_sid=1631686570&ga_hid=1084128490&ga_fc=0&u_tz=480&u_his=1&u_java=0&u_h=768&u_w=1024&u_ah=728&u_aw=1024&u_cd=24&u_nplug=3&u_nmime=4&adx=43&ady=1400&biw=1007&bih=600&scr_x=0&scr_y=0&eid=31062518,31062492,21067496,31062297&oid=3&pvsid=1043251617947374&pem=767&ref=https://www.google.com/&eae=0&fc=1408&brdim=0,0,0,0,1024,0,0,0,1024,600&vis=1&rsz=||s|&abl=NS&fu=128&bc=31&ifi=4&uci=a!4&btvi=2&fsb=1&xpc=En0vhXXzWR&p=https://koranbanjar.net&dtd=M" name="aswift_3" width="605" height="0" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" sandbox="allow-forms allow-popups allow-popups-to-escape-sandbox allow-same-origin allow-scripts allow-top-navigation-by-user-activation" allowfullscreen="allowfullscreen" data-google-container-id="a!4" data-google-query-id="CNznifWrgPMCFbgUrQYduYYBNA" data-load-complete="true" data-mce-fragment="1"></iframe>
<iframe id="aswift_2" src="https://googleads.g.doubleclick.net/pagead/ads?client=ca-pub-3758699448716232&output=html&h=152&slotname=4228679922&adk=2272253187&adf=1942034544Π=t.ma~as.4228679922&w=605&fwrn=4&lmt=1631687043&rafmt=11&psa=1&format=605x152&url=https://koranbanjar.net/di-balik-suksesnya-bakso-batuah-bikin-pentol-butuh-2-ekor-sapi-per-hari/&flash=0&wgl=1&uach=WyJXaW5kb3dzIiwiNi4xLjAiLCJ4ODYiLCIiLCI5My4wLjQ1NzcuNjMiLFtdLG51bGwsbnVsbCwiMzIiXQ..&dt=1631686569429&bpp=2&bdt=5311&idt=503&shv=r20210913&mjsv=m202109130101&ptt=9&saldr=aa&abxe=1&cookie=ID=5c9d04a5847ea769-22e6ffe8cfc700be:T=1620273979:RT=1620273979:S=ALNI_Mbfwa3yY3MPHyfgPM92J3kMr9R6rw&prev_fmts=0x0,120x600,1007x600&nras=2&correlator=5575478433174&frm=20&pv=1&ga_vid=1151116508.1619424364&ga_sid=1631686570&ga_hid=1084128490&ga_fc=0&rplot=4&u_tz=480&u_his=1&u_java=0&u_h=768&u_w=1024&u_ah=728&u_aw=1024&u_cd=24&u_nplug=3&u_nmime=4&adx=43&ady=1680&biw=1007&bih=600&scr_x=0&scr_y=0&eid=31062518,31062492,21067496,31062297&oid=3&pvsid=1043251617947374&pem=767&ref=https://www.google.com/&eae=0&fc=1920&brdim=0,0,0,0,1024,0,0,0,1024,600&vis=1&rsz=||eEbr|&abl=CS&pfx=0&fu=128&bc=31&ifi=3&uci=a!3&btvi=1&fsb=1&xpc=5LvV50Ktgv&p=https://koranbanjar.net&dtd=M" name="aswift_2" width="605" height="0" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" sandbox="allow-forms allow-popups allow-popups-to-escape-sandbox allow-same-origin allow-scripts allow-top-navigation-by-user-activation" allowfullscreen="allowfullscreen" data-google-container-id="a!3" data-google-query-id="CIqcivWrgPMCFTIzrQYdfFwCrA" data-load-complete="true" data-mce-fragment="1"></iframe>

Tahun 80-an, H Sunarto bersama istri, Hj. Munasri bersama 2 anaknya yang masih kecil merantau dari Blitar, Jawa Timur ke Kota Martapura. Hanya bermodalkan tekad, Sunarto berangkat hanya menggunakan kapal barang. Kendati saat itu, di bulan Desember, cuaca di laut diwarnai ombak besar, namun tidak mengurungkan niatnya.

H Sunarto
H Sunarto

“Biasanya Jawa ke Banjarmasin hanya butuh waktu satu hari satu malam, waktu itu tiba di Banjarmasin butuh waktu 2 hari 2 malam, karena ombak laut sangat besar. Sampai-sampai saya berfikir, entah kapal kami akan dibawa ke mana atau barangkali ke Sulawesi. Pokoknya tujuan saya ke Banjar atau Martapura. Namun alhamdulillah, akhirnya bisa tiba di Martapura,” ungkapnya memulai wawancara.

Waktu itu, kisahnya, dia dan keluarga tiba di Martapura tengah malam dengan memanggul tas berisi pakaian. Saat melintas di kawasan Jl. Tanjung Rema, dia dicegat seorang Pembakal (dulu, red) Batuah, Saleh (almarhum).

“Oleh Pembakal Saleh, kami dibawa naik becak, setelah ditanya tentang sanak keluarga. Saya sebutkan, bahwa saya tidak punya sanak keluarga. Akhirnya, dengan kebaikan beliau (Pembakal Saleh), saya disewakan rumah berukuran 3 meter persegi di mulut Gang Nangka di Jalan Batuah Martapura,” bebernya.

Awal-awal tinggal di Martapura, dia belum membuka usaha bakso, melainkan ikut bekerja jadi buruh dengan seorang pengusaha di kawasan Jl Batuah. “Awalnya, saya ikut kerja dengan Pak Djoko (almarhum), sebagai kuli bangunan, seperti angkat semen dan lain-lain,” ujarnya.

Setelah beberapa lama bekerja sebagai buruh bangunan, lalu dia mencoba peruntungan lain. Dia menghubungi kerabat di Blita Jawa Timur, yakni minta resep untuk bikin usaha bakso. “Waktu itu kan tidak ada telepon, jadi saya minta kirimkan resep melalui telegram dengan tetangga di Blitar. Dari situ, saya memulai usaha sebagai penjual bakso,” kenangnya.

Dengan modal usaha yang sangat sedikit, sekitar Rp600.000, lanjutnya, dia bisa membuat gerobak bakso, membeli barang dasar membuat bakso, termasuk daging sapi. Pertama-tama dia hanya bisa memproduksi daging sapi seberat ¼ kilogram per hari dan puncaknya di tahun 2014, dia memproduksi pentol bakso dengan keperluan daging sapi sebanyak 2 ekor sapi per hari.

“Tahun 2014 itu, rata-rata perhari saya harus menyembelih 2 ekor sapi untuk keperluan daging membuat pentol bakso. Padahal awalnya cuma ¼ kilogram,” ungkap Sunarto.

Dengan modal seadanya, sejak tahun 80-an itulah atau usianya 45 tahun itulah, Sunarto berkeliling jualan bakso di seputaran Kota Martapura. Dia berjualan ke pelosok-pelosok hingga masuk ke Kampung Melayu dan Desa Dalam Pagar.

“Saat itu, jalan di Desa Dalam Pagar tidak seperti sekarang. Kalau lagi lewat saya, kadang harus menyingsingkan celana atau sarung, karen jalan terendam air. Tetapi tujuan saya tidak hanya jualan, tetapi juga menuntut ilmu dengan almarhum Guru Nujhan Dalam Pagar. Jadi waktu itu, saya sering bertemu Guru Nujhan,” jelasnya.

Nah, masih banyak cerita menarik dari perjalanan bisnis Bakso Batuah Martapura. Lalu bagaimana sejarahnya, hingga dinamakan Bakso Batuah? Salah satu ceritanya karena gerobak bakso milik H Sunarto tidak ikut terbakar pada insiden kebakaran yang melanda kawasan Pasar Batuah Martapura pada puluhan tahun silam. (bersambung/sir)

 

Bagikan artikel ini: